“Youtube, Youtube, Youtube Lebih dari TV”

Aloha!
Postingan ini didedikasikan untuk dosen pengampu Aplikasi Komputer saya, bapak Sigit Pambudi S.Pd., M.Eng karena sudah mengajarkan banyak hal tentang pemanfaatan aplikasi komputer selama 1 semester belakangan ini. Dengan senang hati, saya akan berbalas budi dengan mempromosikan channel youtube pak Sigit ehe 😀

Youtube sudah menjadi platform paling sering dikunjungi akhir-akhir ini.  Bagaimana tidak, bila dibandingkan dengan TV, Youtube memiliki nilai lebih yang menguntungkan audience di era yang serba instant ini. Hal ini dapat kita lihat dari segi kepraktisan waktu dan durasi yang dibutuhkan untuk menonton video di youtube daripada di TV. Selain itu, kita juga dengan mudah dapat bebas memilih sendiri konten yang kita sukai, hanya dengan mencari keyword di kolom search, maka dalam hitungan detik kita dapat menikmati pilihan  konten yang diinginkan. Nah, bagi kalian yang menyukai konten berupa film pendek, saya rekomendasikan untuk melihat channnel dosen saya, pak Sigit. Disana kita dapat menonton berbagai macam film pendek yang diproduksi oleh pak Sigit sendiri. Berikut ini adalah salah satu film pendek karya beliau yang tembus hingga 2.400 views.

Selanjutnya, saya juga akan mepromosikan channel youtube jurusan saya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta 😀 Buat kamu-kamu yang kepo dengan apa saja sih kegiatan di jurusan kami, silahkan search dengan keyword Ilmu Komunikasi UNY, maka semua kekepoan kamu bakal terjawab semua disini! Salah satu agenda kami yaitu makrab angkatan 2017.

Gimana, seru banget kan? Makanya, jangan lupa untuk like, comment dan subscribe kedua channel diatas yaa! Dijamin tontonanmu di youtube bakal lebih menghibur dan berfaedah!

See Ya ! 🙂

Review Materi Aplikasi Komputer, Yuk?

Aloha!
Pada postingan kali, saya akan mencoba membahas dan mereview materi apa saja yang saya dapatkan dari mata kuliah Aplikasi Komputer yang diampu oleh bapak Sigit Pambudi S.Pd., M.Eng . Mata Kuliah ini memberikan pengetahuan dan melatih kreatifitas mahasiswa dalam pemanfaatan aplikasi komputer yang mencakup aplikasi pengolah kata (Microsoft Word), aplikasi desain grafis (CorelDRAW), dan aplikasi multimedia interaktif (Adobe Flash).

         

Images taken from google.com

Materi pertama mata kuliah aplikasi komputer yang saya dapatkan semester ini adalah materi mengenai tata cara membuat skripsi dengan menggunakan Microsoft Word. Pembuatan skripsi memang menjadi sebuah ‘gong’ di dalam dunia perkuliahan. Dengan adanya mata kuliah aplikasi komputer di semester 2 ini, mahasiswa dapat belajar mengenai pembuatan skripsi dengan rapi dan terstruktur, sehingga diharapkan mahasiswa dapat dengan mudah mengaplikasikannya di masa mendatang ketika ‘sudah waktunya’  pada semester 8. Berikut ini adalah cover tugas skripsi milik saya yang ditugaskan di dalam mata kuliah Aplikasi Komputer tersebut .

Kali ini saya akan menjelaskan cara untuk membuat daftar gambar di dalam suatu skripsi. Untuk membuat daftar gambar langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Klik menu References.
2. Membuat caption pada setiap gambar yang akan masuk ke dalam list daftar gambar. Pada menu Caption, klik Insert Caption, lalu klik New Label untuk membuat label baru.

3. Setelah label baru dibuat, pilih judul gambar yang akan dibuat daftar gambarnya. Taruh kursor di antara judul gambar lalu klik Insert Caption. Pilih label yang dimaksud lalu klik OK.

 

Selanjutnya, kita akan membahas CorelDRAW. CorelDRAW merupakan aplikasi desain grafis yang menyediakan banyak fasilitas dan menawarkan kemudahan bagi pengguna dalam membuat sebuah obyek desain grafis. Aplikasi ini membantu kita dalam mengkreasikan bentuk objek dan warna.Dalam mata kuliah aplikasi komputer ini, kita ditugaskan untuk mendesain berbagai macam logo. Menurut saya, cara penggunaan CorelDRAW hampir mirip dengan Microsoft paint yang dimana mereka sama-sama dilengkapi oleh tool box lengkap dengan berbagai shapes, dan juga colour palette yang berisi daftar pilihan warna yang dapat kita gunakan untuk memberi warna pada obyek gambar.

Namun yang membedakan adalah variasi dari CorelDraw sendiri, dimana mereka dilengkapi dengan ; (i) Menu Bar, bagian yang berisi beberapa pilihan menu untuk menjalankan suatu perintah; (ii) Tool Bar, bagian yang berisi beberapa tombol perintah untuk menjalankan suatu perintah; (iii) Property Bar, bagian yang berisi perintah-perintah yang berhubungan dengan tombol perintah atau obyek yang aktif. Selain itu, yang membedakan adalah CorelDRAW yang berbasis vektor sedangkan Microsoft Paint yang berbasis bmp. DIbawah ini merupakan gambar lembar kerja dari CorelDraw.

Images taken from google.com
Last but not least, Adobe Flash. Flash merupakan software yang memiliki kemampuan menggambar sekaligus menganimasikannya. Ada 2 cara untuk membuat animasi di dalam Flash, yaitu animasi Frame by Frame dan animasi Tweening. Pada animasi Frame-by-Frame, kita akan membuat gambar pada setiap frame. Pada setiap frame dianggap sebagai jangka waktu dari objek itu sendiri. Gambar dibawah ini merupakan contoh penerapan animasi Frame-by-Frame.

Sedangkan, animasi Tweening adalah cara untuk membuat gerakan dan perubahan dalam animasi dengan file yang relatif kecil. Gambar dibawah ini merupakan contoh dari penerapan animasi Shape Tween.

Sekian dari postingan saya kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan review materi Aplikasi Komputer atau juga yang masih bingung dalam penggunaan aplikasi komputer, yang mencakup aplikasi pengolah kata (Microsoft Word), aplikasi desain grafis (CorelDRAW), dan aplikasi multimedia interaktif (Adobe Flash).

See Ya! 🙂

“Autobiography” /ˌɔːtəʊbaɪˈɒɡrəfɪ/

Aloha!

Nama saya Norika Hidayati Yusyah yang memiliki arti ‘cahaya pertama pembawa hidayah.’ Lahir di Tangerang, 1 November 1997 pada pukul 17.30 WIB. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Pada tahun 2000, saya mulai memasuki jenjang pendidikan pada usia 5 tahun di TK Islam Assyukriyah yang berada di Cikokol, Tangerang, Banten. Setelah menempuh pendidikan TK selama 2 tahun, saya melanjutkan pendidikan saya yaitu di SDN Tangerang 1 disaat saya berumur 7 tahun. Ibu saya adalah orang paling berteguh prinsip di dunia;  anak-anaknya harus masuk SD pada umur 7 tahun, dimana pada umumnya orang lain menyekolahkan anaknya disaat umur 6 tahun. Menurut beliau, umur 7 tahun adalah umur yang paling tepat untuk menyekolahkan anak dilihat dari segi kesiapan mental. Masih banyak prinsip hidup yang beliau pegang teguh dan saya sangat mengagumi hal itu. Adik saya Naufal, bahkan harus menganggur setahun untuk menunggu umur 7 tahun. Hal ini dikarenakan skor test adik saya diatas rata-rata, yang kemudian dari pihak sekolah mengharuskan Naufal untuk loncat ke tahun kedua (kelas nol besar).

Setelah lulus SD, kemudian saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di SMPN 2 Tangerang. Saya sangat senang bisa sekolah disini karena selain merupakan sekolah favorit, saya juga sangat menghormati bagaimana sekolah ini setiap paginya mempunyai agenda mengumpulkan siswa-siswinya di lapangan untuk melafadzkan asmaul husna. I mean how cool is that?? Disini saya juga bertemu dengan teman-teman yang sangat menyenangkan, membuat masa SMP saya dipenuhi gelak tawa. Namun hanya selama dua tahun saya menuntut ilmu disini. Pada tahun terakhir masa SMP yaitu kelas 3, saya dan sekeluarga pindah ke kota Yogyakarta. Pindah ke kota Yogyakarta bukanlah hal yang mudah bagi saya. Banyak turning point dalam hidup saya yang terjadi setelah kepindahan ini. Namun seiring berjalannya waktu saya sadar bahwa ini adalah jalan terbaik dan saya sangat bersyukur bisa menetap di kota pelajar ini. Tahun terakhir SMP saya tempuh di SMPN 16 Yogyakarta.

Pada tahun 2013, saya melanjutkan pendidikan saya di SMAN 7 Yogyakarta. Kehidupan SMA saya sangat menyenangkan. Disini saya dipertemukan dengan banyak teman dan dua orang sahabat saya, dimana kami memiliki banyak persamaan dalam berbagai hal. Saya juga mengikuti berbagai kepanitian dengan tujuan untuk mengasah kemampuan organisasi saya. Saat naik ke kelas 2 SMA, saya dimasukan ke kelas peminatan IPA. Waktu itu, saya memilih peminatan IPA hanya berdasarkan hasil psikotest tanpa membayangkan jurusan apa yang akan saya ambil saat kuliah nanti.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai tertarik dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Banyak kesesuaian antar passion saya dengan jurusan ini. Terlebih dengan kemajuan dan kemudahan teknologi yang ada saat ini, membuat jurusan Ilmu Komunikasi menjadi jurusan yang relevan untuk prospek kerja kedepannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena untuk masuk jurusan ini soal yang diujikan berasal dari peminatan IPS.

Setelah UN selesai, saya terus belajar siang malam untuk mengejar materi dan memanfaatkaan beberapa bulan terakhir sebelum ujian SBMPTN datang. Namun kehendak Allah swt berkata lain. Tahun kelulusan belum menjadi tahun saya mendapat rezeki untuk duduk di bangku perkuliahan. Perasaan putus asa, tidak berguna, malu, pastilah muncul dibenak saya kala itu. Dikala teman-teman saya sibuk untuk mempersiapkan diri sebagai mahasiswa baru, saya menghabiskan waktu di bimbingan belajar untuk mengikuti SBMPTN tahun berikutnya. Untunglah saya memiliki keluarga, teman, dan lingkungan yang positif dan membangun sehingga kesedihan saya tidak berlarut-laut. Selain mengikuti bimbel, saya juga mengikuti English course di Universitas Sanatha Dharma, dimana hal ini sangat membantu dalam memperbaiki kemampuan bahasa inggris saya. Apalagi jurusan Ilmu Komunikasi tidak bisa lepas dari yang namanya bahasa dan juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi saya.

Alhamdulillah di tahun berikutnya, saya diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta. Saya sangat senang dan bersyukur bisa diberi kesempatan untuk berkuliah. Apalagi di jurusan ini kekerabatan antar dosen dan mahasiswanya bisa dikatakan cukup erat dibanding dengan cerita dari teman-teman dari jurusan lain. Hal ini membuat dunia perkuliahan menjadi ‘tidak spaneng’ istilahnya. Saat saya menulis ini, saya sedang berada di penghujung semester 2. Sudah banyak pengalaman dan kesempatan baru yang saya alami dalam setahun terkhir ini. Doakan agar saya bisa terus melakukan yang terbaik kedepannya baik untuk diri saya sendiri maupun orang lain. Sampai jumpa di lain kesempatan.

See ya! 🙂

RESENSI BUKU COMMUNICATING AT WORK

RESENSI BUKU DESKRIPTIF

Oleh :

Norika Hidayati / 17419144032

Judul                     : Communicating at Work: Principles and Practices for Business and the Professions: 11th Edition

Pengarang          : Ronald Adler, Jeanne Marquardt Elmhorst, Kristen Lucas

Penerbit              : McGraw-Hill Higher Education, 2012

Tanggal Terbit    : 26 September 2012

Dimensi Buku    : 8 x 0.7 x 10 inch

Nomor ISBN       : ISBN-10 0078036801

                               ISBN-13 978-0078036804

 

McGraw-Hill terkenal sebagai penerbitan bergengsi di dunia. Perusahaan McGraw-Hill adalah perusahaan perdagangan raksasa yang fokus utamanya adalah pendidikan, penerbitan, penyiaran radio dan bisnis. Perusahaan ini berada di Rockefeller Center, New York. McGraw-Hill menerbitkan buku untuk berbagai jenjang pendidikan dan untuk berbagai macam konsentrasi. Pada kesempatan kali ini, saya akan meresensi salah satu buku terbitan McGraw-Hill yang berjudul Communicating at Work: Principles and Practices for Business and the Professions: 11th Edition. Buku ini ditulis oleh Ronald Adler, Jeanne Marquardt Elmhorst, Kristen Lucas. Ketiga penulis ini adalah orang yang ahli di bidang ilmu komunikasi dan bisnis. Ronald adalah guru besar emiritus di Santa Barbara City College spesialis study organisasi dan komunikasi perorangan, Jeanne adalah pengajar ilmu komunikasi di New Mexico Community College di Albuquerque, New Mexico, dan Kristen adalah seorang asisten professor di Departemen Manejemen Universitas Louisville konsentrasi komunikasi bisnis. Buku ini terdiri dari 4 bab ( Basics of Business and Profesional Communication Strategic Case : Sundown Bakery, Personal Skils Strategic Case : Omnicom marketing, Working in Group Strategic Case : Museum of Springfield, and Making Effective Presentation Strategic Case : Fresh Air Sport) dan terdiri dari 12 bagian.

Buku Communicating at Work edisi ke 11 ini lebih meningkatkan pada pendekatan strategi dan contoh praktek di dunia kerja yang sebenarnya. Bacaan yang mudah dipahami, membuat buku ini tetap menjadi unggulan dan laku dalam beberapa tahun terakhir. Pada setiap halamannya, pembaca dapat belajar bagaimana cara berkomunikasi yang dapat meningkatkan keberhasilan karir mereka dan membantu organisasi mereka supaya dapat beroperasi secara efektif. Edisi ini mempertahankan ciri khas fitur yang selalu disukai oleh para pembacanya (yang mayoritas para dosen dan siswa). Ciri khas fitur buku ini antara lain menekankan pada etika komunikasi dan keragaman budaya, diskusi tentang metode teknologi komunikasi, dan alat penilaian atau evaluasi mandiri. Dengan begitu buku ini merupakan alat yang tepat untuk membantu pembaca menghubungkan antara materi dan praktek yang dapat diterapkan pada situasi nyata dunia bisnis.

Dalam buku Communicating at Work terdapat banyak “Hallmark Feature” yang berbentuk highlight boxes text yang memuat tentang panduan dan contoh praktek nyata di dunia kerja. Fitur bantuan ini membantu siswa dalam menyadari penerapan dari konsep dan keterampilan pada dunia nyata. Terdapat 6 fitur bantuan dalam buku ini, yang pertama adalah Culture at Work. Disini pembaca akan diberi penjelasan dan contoh aplikasi dalam berbagai aspek bisnis dan komunikasi profesional. Kedua yaitu (Updated) Case Study. Disini pembaca diberikan contoh kasus terbaru dari bisnis dunia. Ketiga yaitu Career Tip. Disini pembaca diberi panduan karir dalam bagaimana cara agar kita bisa lebih sukses dalam situasi hubungan pekerjaan.

Keempat,Technology Tip. Disini pembaca akan diberi penjelasan bagaimana cara menggunakan berbagai macam alat komunikasi untuk mempermudah dan mempercepat dalam mencapai tujuan tertentu. Kelima yaitu Self-Assessment. Selain diberi panduan dan penjelasan tentang komunikasi dalam pekerjaan, para pembaca juga diberi evaluasi untuk melihat apakah mereka sudah menerapkan konsep dan identitas diri dalam berkomunikasi. Yang terakhir yaitu Ethical Challenge. Pembaca diajak untuk menyadari etika yang baik lewat tantangan-tantangan yang ada dalam buku untuk dilakukan perharinya. Buku Communcating at Work ini mudah dimengerti dan gaya tulisan didalamnya masuk akal atau tidak bertele-tele. Namun yang menjadi kekurangan, buku ini hanya tersedia dalam bahasa inggris. Alangkah lebih baik jika buku ini dapat ditranslate ke bahasa indonesia sehingga lebih mudah untuk dibaca pembaca di Indonesia.